Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Sanad Itu Penting!

Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim. Menjadi pribadi yang berilmu menjadikan diri kita memiliki derajat yang lebih tinggi. Namun, bila ilmu tanpa memiliki sanad, maka gurunya tak lain dan tak bukan adalah setan. Mengapa? Karena ilmu agama bukan ilmu yang sifatnya coba-coba, tetapi ini menyangkut perilaku akhlak dunia dan akhirat. Salah pengamalan akan mengantarkan pada kesesatan. Jika ingin memiliki ilmu agama yang benar, maka hendaklah menghadiri majelis taklim yang dibimbing oleh ustaz atau ulama.

Ilustrasi para santri di pesantren (unsplash.com/Mufid Majnun)

Belajar agama tidak cukup dengan membaca buku-buku, apalagi sebatas terjemahan, menonton Youtube, atau mendengarkan podcast semata. Ilmu yang didapat dari sosok guru yang jelas dan mempunyai sanad, maka muaranya akan menghasilkan ilmu yang bisa menentramkan hati dan menjernihkan akal pikiran, bukan justru menghasilkan kegemaran dalam saling menyalahkan.

Kita tahu di era kiwari banyak sekali fenomena yang membuat hati miris. Amat banyak oknum yang berlabel ustaz atau ulama dengan mudah mengadu domba antarmasyarakat menggunakan dalih-dalih dari ayat-ayat Al-Qur’an. Hal ini tak ayal membuat masyarakat berpikir bahwa pemahaman agama dalam dirinya adalah pemahaman yang paling benar dan kemudian menyalahkan pemikiran dan pemahaman orang lain di luar dirinya, seperti halnya pertikaian statement benar dan salah yang acap kali terjadi.

Keadaan kini telah mencemaskan dan memprihatinkan. Betapa mudah dan jamak dijumpai di zaman ini orang-orang yang tidak jelas diketahui kepada siapa ia pernah belajar agama, tidak jelas dikenal telah berapa lama mereka pernah mengaji, dan tidak jelas dan teruji pula keilmuannya dalam bidang agama. Lalu, dengan tiba-tiba mereka dengan pongah menyandang gelar “ustaz”, bahkan anehnya ada yang baru saja menjadi mualaf, memberikan ceramah berapi-api, tapi isinya propaganda dan agitasi belaka.

Mayoritas ceramah mereka nirguna dan hanya didominasi hujatan, cercaan, dan cacian kepada siapa pun di luar golongannya. Mungkin, mereka pikir memberi ceramah agama adalah profesi yang mudah mendatangkan cuan dan bisa mengangkat kehormatan yang bisa digunakan untuk tujuan duniawi sembari bersembunyi di balik narasi kemaslahatan umat dan kemanusiaan. 

Di lain pihak, orang-orang yang belajar agama belasan, bahkan puluhan tahun di pesantren akan merasa heran dan tak habis pikir mengapa banyak orang mau bermakmum di belakang para “ustaz” seperti itu dengan segala kefanatikannya. Imam Bukhari di dalam kitab Shahih Bukharinya berkata, 

تعلموا العلم قبل الظانين 

“Mengajilah (belajarlah) dengan bersungguh-sungguh sebelum kamu bertemu dengan masanya orang yang berbicara ilmu yang hanya bermodalkan prasangka”. Kutipan Imam Bukhori tersebut lantas disyarahi oleh Imam Nawawi yang berbunyi,

تعلموا العلم من اهل العلم المحققين الوارعين قبل مجيئ قوم يتكلمون بظنونهم التي ليس لها مستند شرعي

“Mengajilah (belajarlah) dengan bersungguh-sungguh kepada orang yang benar-benar berilmu sebelum kamu bertemu dengan masanya orang yang berbicara ilmu yang hanya bermodalkan prasangka tanpa sandaran yang jelas”.

Maqolah kedua ulama di atas menunjukkan kepada kita pentingnya berilmu kepada guru atau ulama yang memiliki sanad yang jelas. Hal ini yang akan kemudian mampu menjauhkan kita dari kesesatan dalam beragama. Ulama adalah pewaris para nabi. Setelah kenabian ditutup dengan diutusnya Rasulullah saw., maka warisan keilmuan keagamaan berada dalam tanggung jawab para ulama. Penting untuk menengok, mempelajari, dan belajar langsung kepada para ulama untuk menjaga kesinambungan ilmu dari Rasulullah saw. 

Fenomena lain yang membuat miris sekaligus prihatin adalah banyaknya muslim yang kurang hati-hati dan selektif dalam memilih ulama atau ustaz dalam belajar agama. Di zaman ini, masyarakat muslim memiliki tendesi untuk berhati-hati dan selektif dalam urusan dunianya saja. Ambil contoh bila seseorang sedang sakit, maka ia akan sangat hati-hati dalam mencari dokter sekaligus rumah sakit yang akan merawatnya. Ia akan lebih memilih dokter spesialis cum berpengalaman untuk membantunya mencapai kesembuhan. Abdullah bin Mubarak rahimahumullah di kitab Shahih Muslim berkata,

الإسناد من الدين لولا الإسناد لقال من شاء على ما شاء

“Sanad adalah bagian dari agama. Kalau bukan karena sanad, pasti siapa pun bisa berkata dengan apa yang dia kehendaki”. 

Sayangnya, di zaman ini para ustaz gadungan mendominasi dan mengalirkan paham liberal kepada masyarakat awam tanpa mengkaji sesuatu yang disampaikannya dan lebih ironisnya lagi masyarakatnya pun tidak mengkaji dan meneliti apa yang disampaikan mereka.

Jangankan isi atau substansi yang disampaikan, kriteria seseorang bisa disebut sebagai ustaz pun tidak dipedulikan dan diperhatikan. Imam Bukhari yang terkenal sebagai ahli hadis mempunyai guru yang berjumlah 1.080 ulama. Jadi, dapat disimpulkan jika belajar agama tanpa guru sangat rawan gagal paham akan dalil-dalil dalam agama, dan rawan dengan kesesatan. Jika seseorang ingin mengetahui makna yang  terkandung dalam Al-Qur’an tanpa proses belajar dari bimbingan guru atau ulama niscaya ia akan menemui kesulitan dan merasa waswas dalam beragama. 

Seyogianya, masyarakat harus memiliki guru yang mempunyai kemampuan dan sanad keilmuan yang jelas. Ini penting karena sanad ilmu menunjukkan pentingnya otoritas dalam berilmu agama. Terlebih bagi masyarakat muslim yang masih awam dan tidak memiliki kemampuan menggali serta meneliti suatu persoalan dalam ilmu agama, maka ia diwajibkan memiliki guru yang dapat membimbingnya agar tidak tersesat dalam pemahamannya.

Wallahu ’Alam Bisshowab

Oleh: Muhammad Haris Miftah Sibawayhie 

Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Al Falah, Ploso Mojo, Kediri dan sekarang sedang mengambil Sarjana Strata 1 pada Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, UIN Sunan Ampel, Surabaya

Bagikan:

Mari Ngelinting, Sahabat!

Ilustrasi rokok lintingan (unsplash.com/Afif Kusuma) 

Selain sembako, komoditas yang menjadi primadona dagangan entah itu oleh peretail besar di daerah urban hingga pemilik toko kelontong di perkampungan adalah rokok. Rokok mudah laku, sehingga tidak lekas kedaluwarsa seperti penganan lainnya. Tak hanya sebagai simbol pertemanan, rokok acapkali menjadi simbol penghormatan. Alih-alih menggunakan secarik kertas, uleman menggunakan media rokok.

Tahun 2020 menjadi tahun yang tak mengenakkan bagi rokok. Tak hanya pandemi COVID-19 yang membuat banyak rakyat Indonesia terpapar, kenaikan Cukai Hasil Tembakau (CHT) pun juga turut membuat penikmat nikotin terkapar. Kenaikan 23% CHT tahun lalu adalah yang tertinggi dalam 20 tahun terakhir. Padahal, biasanya persentase kenaikan tahunan hanya di angka belasan persen saja, bahkan 0% di tahun 2014 dan 2019 yang notabene tahun politik.

Mengisap rokok bagi sebagian kalangan sudah menjadi lifestyle, bahkan menjadi kultur di beberapa daerah. Kenaikan harga rokok dalam waktu nisbi singkat karena naiknya cukai tentu membuat pengisap rokok harus putar otak. Untunglah leluhur kita telah mewariskan sebuah laku solutif atas permasalahan ini, yakni tingwe alias ngelinting dewe. Budaya tingwe boleh dikata jauh lebih tua dari pada umur republik ini. Tingwe, bahkan setua sejarah tembakau itu sendiri. Konon, rokok lintingan sudah ada sejak sebelum abad XVI. Jadi, boleh disimpulkan bahwa kebiasaan melinting memang sudah ada sejak dulu. Jauh sebelum industri rokok menjadi industri kolosal di era kiwari.

Daerah Besuki mempunyai salah satu varian tembakau terbaik di kabupaten Situbondo. Di kabupaten yang dijuluki Bumi Selawat Nariyah ini paling tidak ada dua varian tembakau yang terkenal, yakni di wilayah barat ada Tembakau Tambeng dari Besuki dan perwakilan wilayah timur ada Tembakau Kayu Mas dari Arjasa. Rajangan tembakau Tambeng memiliki aroma khas dengan rasa gurih, manis, dan coklat. Tembakau yang masih dirajang dengan cara tradisional melalui tangan terampil para petani dan dijemur secara alami di bawah terik mentari ini mempunyai tarikan halus nan “sopan” di tenggorokan.

Selain Tambeng banyak varietas tembakau terkenal lainnya semisal tembakau Paiton, Madura, Gayo, dan Temanggung yang nikmat dijadikan tingwe. Semuanya mempunyai aroma dan rasa yang berbeda. Namun, ada satu hal yang sama. Di masa pandemi, tembakau tingwe bisa membuat dapur perokok tetap mengepul dan dapur mulut tetap kebal-kebul. Jadi, marilah ngelinting bersama, sebelum ngelinting itu dilarang jadi ikutan mahal!

Penulis: Ahmad Faiz

Editor: Muh. Sobri

Bagikan:

Peranan GP Ansor di Era Disrupsi

Ilustrasi Gerakan Pemuda Ansor (www.nu.or.id

Setiap kehidupan akan terus berkembang dalam segi apa pun. Sebuah inovasi yang lahir dari kreativitas selalu akan menuai pro dan kontra. Tentunya kita harus bisa memfilter imbas dari hal-hal tersebut.

Inovasi memang sejatinya kreatif, namun kadang destruktif. Karena itulah, selalu ada yang hilang, memudar, lalu kemudian mati. Semua ini menakutkan sekaligus bisa membuat kita membentengi diri dengan lebih baik. Di sisi lain, ada beragam hal baru yang hidup. Kendati demikian, kita harus juga dapat memilah kemunculan hal-hal baru yang tidak baik.

Disrupsi adalah sebuah inovasi yang akan menggantikan seluruh sistem lama dengan cara-cara baru, tentu kita tidak bisa lari dari hal ini. Sebagai sebuah gerakan pemuda, GP Ansor tentunya tidak bisa tinggal diam dengan adanya fenomena ini. Seperti yang dikatakan oleh sahabat Hendra Fatayasin pada sebuah forum diskusi yang digelar oleh GLN, “Di era ini, para kader Ansor harus bergerak dan menggerakkan serta menghadirkan inovasi-inovasi yang konstruktif, bukan destruktif. Kader-kader juga perlu berpartisipasi aktif dalam sektor-sektor strategis sebagai distribusi kader. Sekarang, kita tidak bisa hanya mementingkan keperluan pribadi. Di sepanjang sejarah perjalanan bangsa, GP Ansor memiliki peran strategis dan signifikan dalam perkembangan masyarakat. GP Ansor mampu mempertahankan eksistensi dirinya serta dapat menunjukkan kualitas peran maupun kualitas keanggotaannya. GP Ansor pula mampu mendorong akselerasi mobilitas sosial, politik, dan kebudayaan bagi anggotanya. GP Ansor tetap eksis dalam setiap episode sejarah perjalan bangsa ini," pungkas ketua PAC GP Ansor Besuki itu.

Penulis: Abdul Latif

Editor: Ahmad Faiz

Bagikan:

Jadwal Sholat

Statistik Halaman

Flag Counter